Wednesday, June 10, 2009

GUNUNG ARJUNA


JALUR TRETES

Secara administratif Gunung Arjuna-Welirang masuk dalam wilayah Kabupaten Malang, Pasuruan dan Mojokerto. Dua gunung kembar yang saling bertetangga ini membentang pada bagian tenggara hingga barat laut Propinsi Jawa Timur. Pada bagian dataran tertinggi di ketinggian 2447 Mdpl, tampak membentuk puncak Ringgit. Gunung api tua ini terletak disisi kiri lembah kidang (jalur pendakian tretes). Ada pula puncak G. Lintjing yang berada di ketinggian 2227 Mdpl. Gunung kembar I yang berketinggian 3051 Mdpl, berada di sebelah jalur pendakian via tretes. Gunung kembar II yang berada di ketinggian 3126 Mdpl, puncaknya terletak di sebelah selatan Gunung Kembar I.

Untuk menuju Tretes dari Pandaan dapat ditempuh dari Surabaya selama 45 menit via tol ataupun dari Kota Malang yang memerlukan waktu 60 menit, dengan jarak 70 km. dari Pandaan perjalanan dilanjutkan menuju Tretes dengan menggunakan angkutan desa bertarif Rp 4.000,00. Jalanan beraspal menanjak akan dapat disaksikan pendaki dari balik jendela angkutan. Tampak berdiri gagah Gunung Penanggungan di sisi kanan yang mirip dengan puncak Mahameru. Perjalanan ini membutuhkan waktu 45 menit.

Tretes merupakan daerah wisata yang terkenal dengan air terjun Kakek Bodho-nya, yang berada di ketinggian 865 Mdpl. Tidak jauh dari air terjun terdapat pula jalur Kakek Bodho menuju puncak Arjuna-Welirang dengan medan yang cukup berat sehingga jarang dilalui pendaki. Sedangkan jalur Tretes merupakan jalur yang paling aman dan cukup landai sepanjang 20 km ke puncak Arjuna dan 18 km ke puncak Welirang. Jlaur ini dikatakan cukup aman karena setiap hari selalu ramai oleh lalu lintas para penambang belerang di Gunung Welirang. Hal ini membuat jalur menjadi cukup jelas.

Setelah beres mengurus perizinan di pos PHPA Tretes, pendakian dapat dimulai menuju Pet Bocor. Lintasan menuju ke sana berbatu dengan medan cukup landai dan jelas. Waktu tempuhnya 20 menit.

Pet Bocor adalah sebuah area cukup landai yang terdapat sebuah pet-pipa yang memuncratkan air dengan cukup deras. Sehingga dapat digunakan sebagai segala keperluan pendaki. Di area ini juga terdapat sebuah warung yang buka pada hari-hari tertentu. Selepas Pet Bocor lintasan tetap berbatu dan landai di tengah hutan yang mulai gundul dan diselingi padang ilalang. Setelah punggungan Gunung Limas yang berada di ketinggian 1440 mdpl di sisi kiri lintasan, pendaki akan tiba di kokopan. Waktu tempuh menuju kokopan 3-4 jam.

Kokopan merupakan sebuah dataran yang berada di ketinggian 1600 mdpl.sebuah daerah yang kondusif untuk mendirikan tenda & terdapat sebuah warung. Di sini pendaki dapat menemui sumber air bersih yang ditampung di bak-bak besar. Di sini juga terdapat sebuah WC untuk keperluan buang air. Tepat di bawah kokopan terdapat sebuah makam, yaitu makam Syekh Maulana Magrhribi yang telah dibangun 2 gubug untuk kepentingan para peziarah. Selepas kokopan medan mulai menanjak dan memasuki vegetasi yang didominasi oleh padang rumput. Sepanjang lintasan terbuka ini pemandangan cukup indah. Tampak kerlap-kerlip kota yang berada di bawah kaki gunung. Setelah melewati 3 punggungan pada sisi kiri lintasan, pendaki akan kembali memasuki kawasan hutan pinus yang landai, suatu pertanda bahwa pendaki akan tiba di pondokan. Perjalanan menuju Pondokan membutuhkan waktu 3-4 jam.
Pondokan merupakan sebuah jalur persimpangan yang berada di ketinggian 2250 mdpl. Yang ke kiri menuju puncak Arjuna, sedangkan yang ke kanan menuju puncak Welirang. Daerah ini dinamakan pondokan karena banyak terdapat pondok para penambang belerang, kira-kira 15 buah. Disini juga terdapat sumber air bersih yang berada di sebelah kanan pondokan yang telah di tampung dalam sebuah bak.

Untuk menuju puncak Arjuna, pendaki dapat mengambil jalur kiri di depan musahala pondokan. Dari sini ke Lembah Kidang membutuhkan waktu 30 menit. Lintasanya landai dan di kelilingi rerumputan rimbun dan pepohonan Pinus. Dari sini hingga puncak Arjuna, lintasan sudah tidak berbatu.

Lembah Kidang berada di ketinggian 2300 mdpl dan masuk ke dalam wilayah hutam lindung Lali Jiwo yang terkenal rimbun dan keramat, disarankan untuk tidak ngecamp disini karena tempat ini cukup angker. Hutan Lindung Lali Jiwo emmpunyai luas 50.000 ha. Dari area ini pendaki sudah dapat menyaksikan kegagahan puncak Arjuan yang berdiri gagh diselingi kabut. Di sini terdapat mata air yang tertampung di dalam bak. Pada sore hari pendaki dapat

menyaksikan hewan-hewan penghuni Lali Jiwo yang mampir minum di area ini sebelum kembali ke perduanya. Lintasan menuju puncak Arjuna mulai mulai menanjak ketika pendaki sampai di sebuah tempat yang bernama Lembah Babi. Bebrapa puluh menit kemudian pendaki akan tiba di sebuah persimpangan, yakni bertemunya jalur ini dengan jalur yang menghubungkan ke puncak Welirang via Gunung Kembar I dan II.

Setelah memasuki vegetasi padang ilalang, pendaki akan menemui sebuah puncak semu yang salah satunya bernama Pasar Dieng yang ketinggianya hamper sama dengan puncak Arjuna, di sini terdapat beberapa in memoriam pendaki yang menghembuskan nafas terakhirnya di Gunung Arjuna. Kira-kira 10 menit kemudian, pendaki akan tiba di titik triangulasi tertinggi puncak Arjuna 3339 mdpl yang terdapat banyak tumpukan batu. Dari sini pendaki dapat menyaksikan indahnya daerah-daerah yang berserakan di bawah sana seperti Malang, Surabaya, Pasuruan, dan kegagahan puncak Mahameru serta kerlap-kerlip lampu kapal yang berada di utara pulau Jawa.


Pengalaman mendaki G. Arjuna :

“lost in lali jiwo” setelah turun dari puncak ogal-agil (sebutan puncak Arjuna) mas Arif & bang Ipul pisah dari rombongan (jumlah rombongan 5 orang). Kami bertiga sampai di pondokan setelah waktu isya’ magrib tiba, menunggu dan menunggu kedua teman kami tak kunjung datang. Dengan perasaan gelisah dan was bang ajiz berbaik hati memasak untuk tim, menyiapkan hidangan kalau2 dua orang yang kami tunggu datang dan butuh supplay makanan.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 sosok mereka tak kunjung datang, lebih baik tidur dan istirahat untuk mengembalikan tenaga. Matahari telah menghangatkan suasana di pondokan pagi itu, dan diluar tenda terlihat ada tenda yang mirip punyanya mas Arif tenda eiger lounger warna orange. Saya bersama bang ajis terus mengamati tenda tersebut dan akhirnya muncullah sesosok manusia dengan rambut gondrong...wahhhhhhh...ternyata dugaan kita salah.. tak lama setelah itu bangIpul & mas Arif muncul dengan penuh senyum & tawa, walupun mereka habis tersesat di Lali Jiwo. Bukan tanpa alasan mereka tersenyum, karena semalam mereka dijamu oleh arek-arek Malang dan diantar sampai Lembah Kidang......waaaaaaah Asem ig.........





No comments:

Post a Comment